Tampilkan postingan dengan label musim gugur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musim gugur. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2010

diri saya kata media


Dear Farobi Bilhaq, di bawah ini adalah hasil Test Kepribadian Anda:
Siapa diri sejati Anda: Anda dewasa, wajar, jujur dan memberikan nasihat yang baik. Orang meminta komentar pada semua jenis masalah yang berbeda. Kadang-kadang Anda mungkin menemukan diri sendiri dalam sebuah dilema ketika terjebak dengan masalah, yang hatimu bukan kepala Anda perlu untuk diselesaikan.
Pandangan Anda pada diri sendiri:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda turun-ke-bumi
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Orang-orang seperti Anda karena Anda begitu mudah
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda adalah pemecah masalah yang efisien karena Anda akan mendengarkan kedua sisi dari sebuah argumen sebelum membuat keputusan yang biasanya menarik bagi kedua belah pihak
Jenis pacar yang Anda cari:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda tidak semata-mata untuk mencari cewek / pacar - Anda mencari pasangan hidup Anda
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Mungkin Anda harus lebih berpikiran terbuka tentang siapa Anda menghabiskan waktu bersama
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Orang yang Anda cari mungkin menyembunyikan pesonanya di bawah eksterior
Kesiapan Anda untuk berkomitmen hubungan:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda siap untuk melakukan segera setelah Anda bertemu orang yang tepat
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Dan Anda percaya bahwa Anda akan cukup banyak tahu sesegera mungkin Anda orang itu
Keseriusan cinta:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda sangat serius mengenai hubungan
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Tidak tertarik untuk membuang-buang waktu dengan orang-orang Anda tidak benar-benar suka
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Jika Anda bertemu orang yang tepat
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda akan jatuh dalam
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Indah dalam cinta
Pandangan Anda tentang pendidikan:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Pendidikan adalah kurang penting dibandingkan dunia nyata di luar sana
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Jauh dari kelas
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Jauh di dalam Anda ingin mulai bekerja
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Menghasilkan uang
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Hidup Anda sendiri
Pekerjaan yang tepat untuk Anda:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda punya banyak mimpi pekerjaan tetapi memiliki sedikit kesempatan untuk melakukan salah satu dari mereka jika Anda tidak fokus pada sesuatu pada khususnya
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda harus memilih sesuatu
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Pergi untuk itu untuk menjadi bahagia
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Mencapai kesuksesan
Bagaimana Anda melihat keberhasilan:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda takut gagal
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Takut untuk memiliki pergi di karier Anda ingin memiliki jika anda tidak berhasil
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Jangan menyerah jika kamu bahkan belum mulai! Berani
Apa yang anda paling takut:
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Anda prihatin tentang gambar Anda
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Cara orang lain melihat Anda
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Ini berarti bahwa Anda berusaha sangat keras untuk dapat diterima oleh orang lain
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Sudah waktunya bagi Anda untuk percaya kepada siapa Anda
Ƹ̵̡Ӝ̵̨̄Ʒ : Bukan apa yang Anda kenakan

Sabtu, 28 November 2009

biografi SUTAN TAKDIR ALISYAHBANA

Layar terkembang adalah salah satu masterpiece dari seorang Sutan Takdir Alisyahbana, tidak hanya dikenal sebagai seorang sastrawan, tapi dia juga adalah seorang pendidik, penerbit, dan ahli filsafat. Di dalam hidupnya Sutan Takdir Alisyahbana sering terlibat dalam diskusi seni yang pokok pembahasannya adalah “ mempertahankan gagasan tentang pemertahanan terhadap budaya lokal “.Beliau lahir pada tanggal 11 Februari 1908 di Natal, Sumatra Utara. . Ia bukan hanya pendiri Angkata Poedjangga Baru. Ia menjadi salah satu peletak dasar peradaban bangsa dengan menjadikan bahasa Indoneisa sebagai bahasa modern. Lewat Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia yang ditulisnya, Takdir (begitu ia disebut) adalah guru pelajaran bahasa Indonesia di setiap sekolah. Dalam komisi Bahasa Indonesia, Organisasi buatan Jepang, Takdir berhasil menghimpun 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia. Takdir mengaku orang campuran. Ayahnya berdarah Jawa, yaitu Raden Alisjahbana gelar sultan Arbi. Gelar raden itu suatu kelak diakui kesultanan Yogyakarta. Malah, ia pernah disuruh mengamat-amati aktivitas Sentot Alibasjah (pengikut pangeran Diponegoro) yang dibuang di Bengkulu.
Ayah Takdir, Raden Alisyahbana Sutan Arbi, ialah seorang guru. Selain itu, dia juga menjalani pekerjaan sebagai penjahit, pengacara tradisional (pokrol bambu), dan ahli reparasi jam. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemain sepakbola yang handal. Kakek STA dikenal sebagai seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas, dan di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. Kabarnya, ketika kecil STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke Bandung, dan seringkali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatera setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya “Layar Terkembang”.

Setelah lulus dari Hogere Kweekschool di Bandung, Takdir melanjutkan ke Hoofdacte Cursus di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di Hindia Belanda pada saat itu. Di Jakarta, Takdir melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah Takdir bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, Arminjn Pane.

Takdir pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), dan guru besar & Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).

Sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia, Takdir pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Societe de linguitique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah Ilmu dan Budaya (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (-1994).
Takdir sudah menulis sejak berusia 17 tahun. Ketika masih tinggal di Muara Enim, ia mengarang surat-surat Tani dalam bahasa Belanda. Sempat berkecimpung di dalam dunia pendidikan, Takdir akhirnya memilih terjun di dunia tulis –menulis. Ketika Adinegoro, redaktur Panji Poestaka, pindah ke Medan, posisinya digantikan Takdir. Saat itu ia mulai merintis Gerakan Sastra Baroe tahun 1933, dengan melibatkan para intelektual zaman itu,seperti Armijn Pane dan Amir Hamzah. Sekitar 20 orang intelektual Indonesia menjadi inti gerakan Poedjangga baru, diantaranya Prof. Husein Djajaningrat, Maria Ulfah Santoso, Mr. Sumanang, dan Poerwadarminta.
Poedjangga baru diterbitkan pertaman kali oleh percetakan Kolf milik A. Dahleer, seorang berkebangsaan Belanda. Perjalanan Takdir dalam dunia sastra menghasilkan suatu kesimpulan yang akan terus menjadi visi perjuangannya. Baginya, sastra yang bertanggungjawab adalah yang bisa menjadi kebangkitan dunia baru. Tidak eksklusif dalam individualisme atau sekedar mencurahkan perasaan yang egois, tanpa kepedulian terhadap krisis yang terjadi dalam masyarakat. Modernitas yang dilandasi rasionalitas adalah kunci pemikiran Takdir. Konsep inilah yang ia pertahankan sejak Polemik Kebudayaan di era 30-an.
Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang saya namakan kebudayaan progresif (dikuasai nilai ilmu dan nilai ekonomi yang melahirkan teknologi) dan yang saya namakan kebudayaan ekspresif (kebudayaan tradisional yang dikuasai oleh nilai-nilai agama dan seni). Yang pertama berdasarkan intuisi, perasaan, dan imajinasi, tulis Takdir di tahun 1986. Bagi Takdir, kebudayaan adalah totalitas ilmu, teknologi, dan agama. Ia pendiri Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) serta Universitas Nasional, ia sempat lama jadi rektor. Ia tak pernah letih menganjurkan penerjemahan karya-karya asing secara besar-besaran. Lihat Jepang, mereka sampai menerjemahkan ensiklopedi, katanya.
Sutan Takdir Alisyahbana adalah tipe orang yang suka melakukan sesuatu dengan penuh totalitas.“ saya adalah orang fanatik dalam melakukan sesuatu…”.Sutan Takdir Alisyahbana berpendapat bahwa semua orang menerima bahwa kemajuan itu adalah berdasarkan kemajuan budaya modern, kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, bukan berasal dari kebudayaan nenek moyang. Menurutnya pemuda bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang dilakukan oleh nenek moyang. Sastra yang dibangun itupun haruslah sastra yang sesuai dengan perasaan, pemikiran, dan suasana masyarakat yang menuju kearah zaman sekarang yang melihat kedepan itu, yang dianggap lebih rasionalis.


Yang menjadi pusat perhatian sutan Takdir Alisyahbana adalah menyiapkan Bahasa Indonesia untuk menjadi sarana pemikiran baru dalam kehidupan. Makna yang tersirat di dalam Kata Poejangga baru itu sendiri adalah Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan, dan soal masyarakat umum.

“ Kita harus bangkit ke Kesusastraan baru, menyesuaikan diri akan masyarakat akan kebudayaan yang cepat berubah, peran sastra itu harus bertnggung jawab kepada Bangsa Indonesia…”

Begitulah tegas Sutan Takdir Alisyahbana dalam rekaman wawancara, dalam penerbitan karya sastranya, ia tidak sembarangan, karya – karyanya yang diterbitkan selalu mengalami proses koreksi yang panjang, karena baginya karya sastra itu adalah sebuah tanggung jawab.“ suatu karya sastra itu adalah sebuah tanggung jawab, apa yang ada dialam pikiran itu dituliskan dan diucapkan tanpa ada filsafat yang mendasarinya “.

Selama hidupnya beliau telah menciptakan berbaga macam karya ,diantaranya adalah:
• Tak Putus Dirundung Malang (novel, 1929)
• Dian Tak Kunjung Padam (novel, 1932)
• Tebaran Mega (kumpulan sajak, 1935)
• Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936)
• Layar Terkembang (novel, 1936)
• Anak Perawan di Sarang Penyamun (novel, 1940)
• Puisi Lama (bunga rampai, 1941)Puisi Baru (bunga rampai, 1946)
• Pelangi (bunga rampai, 1946)Pembimbing ke Filsafat (1946)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia (1957)
• The Indonesian language and literature (1962)
• Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1966)
• Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (kumpulan esai, 1969)
• Grotta Azzura (novel tiga jilid, 1970 & 1971)
• Values as integrating vorces in personality, society and culture (1974)
• The failure of modern linguistics (1976)
• Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (kumpulan esai, 1977)
• Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (kumpulan esai, 1977)
• Perkembangan Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat dari Segi Nilai-Nilai (1977)
• Lagu Pemacu Ombak (kumpulan sajak, 1978)
• Amir Hamzah Penyair Besar antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi (1978)Kalah dan Menang (novel, 1978)
• Menuju Seni Lukis Lebih Berisi dan Bertanggung Jawab (1982)
• Kelakuan Manusia di Tengah-Tengah Alam Semesta (1982)
• Sociocultural creativity in the converging and restructuring process of the emerging world (1983)
• Kebangkitan: Suatu Drama Mitos tentang Bangkitnya Dunia Baru (drama bersajak, 1984)
• Perempuan di Persimpangan Zaman (kumpulan sajak, 1985)
• Seni dan Sastra di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat dan Kebudayaan (1985)
• Sajak-Sajak dan Renungan (1987).
Buku yang dieditorinya: Kreativitas (kumpulan esai, 1984) dan Dasar-Dasar Kritis Semesta dan Tanggung Jawab Kita (kumpulan esai, 1984).
Terjemahannya: Nelayan di Laut Utara (karya Pierre Loti, 1944), Nikudan Korban Manusia (karya Tadayoshi Sakurai; terjemahan bersama Soebadio Sastrosatomo, 1944).
Buku mengenai STA: Muhammmad Fauzi, S. Takdir Alisjahbana & Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908-1994 (1999) dan S. Abdul Karim Mashad Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana (2006).
Beliau juga banyak mendapatkan penghargaan diantarannya:
• Tahun 1970 STA menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.
• STA adalah pelopor dan tokoh "Pujangga Baru".
Seperti kata-katanya “ dan hidup berjalan terus…”.Beliau memang telah tiada ,ajal menjemputnya pada tanggal 17 juli 1995,namun masih ada sesuatu yang ingin beliau wujudkan yaitu menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa, bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara. Ia kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia yang menjadi penutur bahasa melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantara kawasan

biografi Haji Ali Akbar Navis

Haji Ali Akbar Navis
A.A. Navis merupakan putra kelahiran tanah Sumatra,lahir di Kampung Jawa ,suatu tempat di daerah Padang, Sumatra Barat,pada tanggal 17 November 1924.”A.A Navis” adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya, menulis merupakan bakat alami yang melekat pada dirinya. Navis belajar di INS Kayutanam dari tahun 1932 sampai 1943. Sejak tahun 1968 kembali mengabdi untuk lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammad Syafei . Lebih dari 20 buku sudah dihasilkan olehnya. Mulai dari kumpulan cerpen, puisi, novel, kumpulan esai, hingga penulisan biografi dan otobiografi. Pada tahun 1956, ia menulis kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami yang merupakan karya monumental dalam dunia sastra Indonesia.”Robohnya Surau Kami” kita sering mendengar cerita pendek itu,itu adalah salah satu karyanya yang sangat terkenal karena ceritanya penuh dengan intrik-intrik yang menarik untuk diikuti.Yang roboh di dalam cerita itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai seperti yang dialami Negara kita ini. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Robohnya Surau Kami, terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah, (1955). Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Dia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Navis 'Sang Pencemooh' begitu Ia mendapatkan julukannya adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.
Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar pada tanggal 22 Maret 2003 lalu,dalam usianya yang berumur 78 tahun A.A Navis menghembuskan nafas terakhirnya. Navis telah lama mengidap komplikasi jantung, asma dan diabetes.Navis sangat menaruh perhatian yang amat sangat besar dalam dunia sastra di Indonesia,hal itu terbukti ketika dua hari sebelum meninggal dunia, ia masih meminta puterinya untuk membalas surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak dbisa ikut Kongres di Bali. Serta minta dikirimkan surat balasan bersedia untuk mencetak cerpen terakhir kepada Balai Pustaka. Ia meninggalkan satu orang isteri, Aksari Yasin, yang dinikahi tahun 1957 dan tujuh orang anak yakni; Dini Akbari, Lusi Bebasari, Dedi Andika, Lenggogini, Gemala Ranti, Rinto Amanda, dan Rika Anggraini, serta 13 cucu. Ia dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Padang.
.A.A Navis juga sering berkomentar mengenai perkembangan dunia sastra di Indonesia Dia melihat Perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. “Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. Sekarang memang banyak pengarang lahir. Dulu juga banyak, cuma penduduk waktu itu 80 juta dan sekarang 200 juta. Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak,” katanya. Perihal orang Minang, dirinya sendiri, dia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. “Yang benar, penuh perhitungan,” katanya, dia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. “Yang benar galia atau galir, ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar)”, selorohnya.
Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. "Tidak semua gagasan dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen," katanya dalam suatu diskusi di Jakarta.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? "Soalnya, senjata saya hanya menulis," katanya. Baginya, menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. "Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen," katanya seperti dikutip Kompas, Minggu, 7 Desember 1997.
Selain itu “sang pencemooh” juga memiliki pandangan-pandangan tersendiri ketia ia berbicara mengenai Indonesia .Ia menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi, orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. "Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi," katanya.Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. "Sekarang sastra itu fungsinya apa?" tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Ia melihat, perkembangan sastra di Indonesia sedang macet. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Hal ini tak terlepas dari mental korup para elit bangsa ini. Maka andai ia diberi pilihan alat kekuasaan, atau menulis dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Untuk apa? Untuk menyikat semua koruptor. Walaupun ia sadar bahwa mungkin justeru ia yang orang pertama kali ditembak. Sebab, "semua orang tidak suka ada orang yang menyikat koruptor," katanya seperti pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah "tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua" (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah A.A. Navis "Sang Kepala Pencemooh".
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.begitu banyak pemikiran-pemikiran, ide-ide serta masukan-masukannya di dalam dunia sastra Indonesia,sehingga ketika ia pergi banyak sekali orang-orang yang merindukannya. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya, dan delapan antologi luar negeri, serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku Yang Berjalan Sepanjang Jalan. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal adalah:

• Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005)
• Gerhana: novel (2004)
• Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 3 (2001)
• Kabut Negeri si Dali: Kumpulan Cerpen (2001)
• Dermaga Lima Sekoci (2000)
• Jodoh: Kumpulan Cerpen (1999)
• Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat 2 (1998)
• Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidik INS Kayutanam (1996)
• Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994)
• Surat dan Kenangan Haji (1994)
• Cerita Rakyat dari Sumatra Barat (1994)
• Hujan Panas dan Kabut Musim: Kumpulan Cerita Pendek (1990)
• Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986)
• Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984)
• Di Lintasan Mendung (1983)
• Dialektika Minangkabau (editor) (1983)
• Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975)
• Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970)
• Kemarau (1967)
• Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963)
• Hudjan Panas (1963)
• Robohnya Surau Kami (1955)

Selain itu A.A Navis juga banyak mendapatkan penghargaan atas karya-karya yang telah ia ciptakan,diantaranya adalah:

1. Peraih hadiah sastra bergengsi di Asia, Sea Write Award (1974)
2. Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988)
3. Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989)
4. Lencana Jasawan
5. Hadiah sastra dari Mendikbud (1992)
6. Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994)
7. Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999)
8. Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI
Selain menjadi sastrawan Ia pernah menjabat dan berpofesi sebagai,Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, di Bukittinggi (1952-1955),Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang (1971-1972),Dosen part time Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, jurusan Sosiologi Minangkabau (1983-1985),Ketua Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS, Kayutanam sejak tahun 1968,Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat .
Manusia memang fana tetapi seninya tetap hidup di tengah kehidupan bangsanya dan kehidupan umat manusia. Para sastrawan Indonesia yang telah pergi maupun yang masih hidup adalah tonggak budaya personal sedangkan karya mereka adalah budaya spiritual,walaupun kini “sang pencemooh” telah tiada,namun kontribusinya dalam dunia sastra Indonesia manjadi sebuah harta yang harus kita jaga dan kita hargai selamanya

Minggu, 08 November 2009

soal identitas


Ulangan Tengah Semester

Komunikasi Antar Budaya

Dosen pembimbing: Yuka Dian N

Nama :Farobi Bilhaq

N.I.M: 44108010061

Universitas Mercu Buana

Jelaskan bagaimana konsep identitas diri anda,latar belakang kebudayaan dan tempat anda berasal kepada 3 pihak yang anda temui ini:

  1. rombongan wisatawan Eskimo dari Antartika
  2. makhluk Extra Terrestrial dari sebuah planet tak dikenal di galaksi lain
  3. diri anda sendiri

pokok-pokok apa saja yang harus anda jelaskan pada pihak di atas?

1.Saya akan menjelaskan kepada rombongan wisatawan Eskimo mengenai identitas diri saya sendiri,mungkin diperlukan seorang tour guide yang ahli dalam menterjemahkan bahasa Indonesia yang saya gunakan supaya mereka bisa memahaminya.Identitas pada dasarnya adalah sebuah definisi dan definisi tersebut bisa diberikan kepada orang lain atau kita sendiri yang memberikannya.Saya akan mendefinisikan diri saya sendiri sebagai sebagai seorang manusia berusia 19 tahun, saya berkewarganegaraan Indonesia karena saya lahir di Negara ini dan kedua orang tua saya juga merupakan warga Negara Indonesia ,saya bisa membuktikan kepada rombongan orang Eskimo tersebut dengan menunjukan KTP saya dan juga kedua orang tua saya.

Tentunya KTP tidak bisa mewakili atau mendefinisikan seorang Farobi Bilhaq seutuhnya,kartu tersebut belum bisa menjelaskan identitas kita karena pada dasarnya tanpa kartu tersebut kita tetap memiliki identitas seutuhnya,masih banyak hal-hal lain yang bisa saya jelaskan kepada rombongan wisatawan Eskimo selain mengenai siapa diri saya sebenarnya.Saya akan berusaha untuk menjelaskan mengenai kebudayaan saya,serta tempat saya berasal.Berbicara mengenai kebudayaan yang saya miliki tentulah tidak semudah seperti menjelaskan ilmu pasti seperti matematika yang mengatakan 1+1=2.Ayah saya berasal dari Jakarta yaitu ibu kota Negara ini,sedangkan Ibu saya berasal dari Pekalongan yaitu sebuah kota budaya di Indonesia karena di kota itu terkenal dengan kebudayaan batiknya.Apakah benar dengan menggabungkan atau menjumlakan antara Jakarta dan Pekalongan akan terlahir suatu kebudayaan yang baru? Mungkin akan sulit bagi saya untuk menjelaskan latar belakang budaya dan tempat saya berasal kepada rombongan wisatawan tersebut.

Dalam mendefinisikan suatu budaya kita tidak bisa terlalu definitif,karena kebudayaan yang saya miliki berasal dari banyak hal,bisa saja wisatawan Eskimo tersebut mempunyai kontribusi dalam kebudayaan yang saya milki.Kebudayaan dibentuk juga oleh berbagai macam identitas personal,dalam pokok-pokok yang harus saya jelaskan kepada rombongan wisatawan tersebut salah satunya mengenai tempat tinggal,cara berpakaian,makanan,pola hidup dan kebiasaan.letak geografis suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap suatu kelompok,di Antartika mereka hidup dengan musim yang sangat dingin berbeda dengan di Indonesia yang beriklim tropis,jadi hal pertama yang harus mereka lakukan di tempat saya berasal ini adalah mengganti pakaian mereka dengan segera.Saya akan menjelaskan kepada mereka bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang cukup luas yaitu denga luas kira-kira 1.904.556 km² sehingga Negara ini memiliki berbagai macam kebudayaan ,disebut kebudayaan nasional yang pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dengan ciri-ciri khas tersendiri sehingga dengan ciri khas tersebut suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain.

Budaya adalah sesuatu yang terus bergerak,bersifat dinamis,dalam perkembangannya kebudayaan di tempat saya berasal merupakan suatu kebudayan yang cukup harmonis hal itu dikarenakan kita memiliki nenek moyang yang sama,sehingga rasa persaudaraan di tempat ini masih sangat erat,seiring perkembangan waktu banyak orang yang datang ketempat ini yang tentunya membawa kebudayaan dari tempat mereka berasal,sehingga mulai terjadi suatu proses diferensiasi yang bisa menimbulkan konflik dalam masyarakat ini,padahal pada dasarnya kita semua sama asalkan kita mau menerima perbedaan kita pasti bisa hidup berdampingan.saya akan mengatakan kepada rombongan isatawan Eskimo tersebut bahwa kebudayaan Indonesia terbentuk karena individu-individu yang ada di dalamnya dengan acuan Pancasila dan ruh Bhinneka Tunggal Ika.itulah yang menjadi dasar keubudayan di tempat saya berasal,karena kita seluruh penduduk Indonesia sudah sepakat mengenai hal itu.

2.Saya masih agak bingung jika ada mahkluk dari galaksi lain yang sedang berkunjung ke bumi dan saya harus menjelaskan mengenai identitas saya,latar belakang kebudayaan dan juga tempat saya berasal,agak sedikit tidak masuk akal apalagi ini merupakan kunjungan pertamanya,saya harap makhluk itu memahami apa yang saya katakan.Saya seorang manusia ,makhluk hidup yang berkembang biak di planet yang disebut Bumi,karena pada dasarnya kita berbeda planet,mungkin saya akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai anatomi tubuh ini,berbeda ketika saya menjelaskan identitas saya kepada rombongan wisatawan Eskimo itu kerena kita masih satu spesies, kali ini penjelasan saya harus lebih mendasar,saya akan mulai menjelaskan hal-hal dasar seperti apa itu lubang ditengah wajah saya?, apa funngsinya?,dan apa namanya? ,seperti “ini adalah hidung, saya menggunakan ini untuk bernafas untuk menghirup oksigen”.Setelah panjang lebar saya menjelaskan anatomi tubuh saya ini,saya akan mulai bercerita tentang identitas saya,yang membedakan saya dari manusia-manusia lain.

Pada dasarnya semua manusia itu berbeda.DNA manusia adalah sebuah keajaiban yang sama sekali tidak mungkin direplikasi,dibaratkan seperti menekan tombol jackpot dengan jutaan icon yang berbeda,kemungkinan untuk mereplikasi susunan DNA yang sama, sama sekali tidak ada dan tidak sama sekali, walaupun manusia tersebut memiliki saudara kembar.Suatu kartu identitas tentu tidak akan mampu bagi dia untuk mamahami identitas diri saya ini.saya akan mulai menceritakan diri saya,makanan favorit saya,kebiasaan,tingkah laku, aktifitas ,serta sikap saya kepada makhluk Extra Terrestrial tersebut dan berharap kita mempunyai selera musik yang sama sehingga penjelasan ini bisa terasa lebih menyenangkan.Setelah saya menjelaskan mengenai semua yang ada dalam diri saya mungkin dia sudah bisa mendefinisikan diri saya karena identitas juga bercermin pada yang lain (The Other).identitas tidak bisa lepas dari pengakuan orang lain atau mungkin juga pengakuan “makhluk lain”.

Setelah panjang lebar menjelaskan mengenai diri saya ,saya akan mencoba menjelaskan latar belakang kebudayaan dan tempat saya berasal yaitu planet Bumi.Bumi itu cukup luas ia memiliki diameter sepanjang 12.756 kilometer,tetapi dibandingkan dengan ukuran Matahari,Sirlus,Polluk dan Arutus, bumi hanya sebuah debu di alam semesta ini.Di dalam Bumi ada terdapat jutaan kebudayaan dan saya akan menjelaskan mengenai kebudayaan makhluk bumi yaitu manusia.

Manusia adalah makhluk social,kita hidup berkelompok dan membentuk suatu kebudayaan yang kita kembangkan dan kita sepakati,bentuk kebudayaan suatu kelompok manusia itu berbeda-beda dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya letak geografis yang merupakan dasar terbentuknya suatu kebudayaan karena dari hasil manusia beradaptasi ia akan membentuk kebudayaannya,sebagai contoh saya hidup di wilayah beriklim tropis iklim yang sangat lunak karena hanya mempunyai dua musim sehingga kebudayan yang dihasilkan dari wilayah saya agak cenderung lunak dalam arti apabila kita mengininkan makanan kita tidak aharus berjuang keras untuk mendapatkannya dan tidak perlu bersaing dengan individu lain karena di dalam iklim tropis ini sumber-sumber makanan bisa dicari dengan mudah,berbeda dengan orang Eskimo yang berusaha bertarung dengan iklim di sana untuk mendapatkan sumber makanan sehingga membentuk karekter yang lebih kuat dalam hal bertahan hidup,itulah awal terbentuknya suatu kebudayaaan,sehingga kebudayaan bisa menjadi pedoman nilai,moral das sein(kenyataan) das sollen(norma moral) dalam kehidupan aktual manusia.

3.Setelah saya mencoba menjelaskan mengenai konsep identitas diri,latar belakang kebudayaan dan tempat saya berasal kepada rombongan wisatawan Eskimo dari Antartika dan kepada makhluk Extra Terrestrial dari galaksi di luar Bima Sakti ,saya harus bisa menjelaskan ketiga hal tersebut kepada diri saya sendiri.Pertama konsep identitas saya sendiri,segala sesuatu yang membedakan diri kita atas nama kepercayaan ,suku ,dan bangsa sudah terjadi sejak saya dilahirkan tanpa saya sadari saya langsung terikat pada sebuah predikat yang melekat .Nama Farobi Bilhaq langsung mengikat diri saya pada satu keluarga, satu kepercayaan dan satu bangsa.Setiap identitas yang seseorang miliki berbeda dari manusia yang lain dan mempuyai keunikan tersendiri,sebagai contoh saya adalah seorang anak keturunan jawa yang bertempat tinggal di wilayah Tangerang,walaupun ibu saya berasal dari Pekalongan tetapi saya sama sekali tidak bisa membatik seperti ibu atau sepupu-sepupu saya yang berada di Pekalongan,tatapi saya bisa memainkan alat musik dan membentuk sebuah band beraliran Death Metal yang sudah sangat jelas bukan merupakan budaya dari daerah asal saya,selain kuliah saya juga bekerja di salah satu bank swasta sebagai telle marketing,saya menjadi sangat unik karena tidak ada manusia lain yang menyandang predikat ini selain diri saya,tetapi disatu sisi yang lain saya juga banyak mempunyai kesamaan-kesamaan dengan individu-individu lain di luar sana karena apabila kita meneliti lebih dalam kita akan menyimpulkan bahwa individualitas ini secara keseluruhan tidak murni ,seperti yang dikatakan oleh Amin Maalouf identitas merupakan sesuatu yang inklusif dan eksklusif,sisi eksklusifnya saya hobi mendengarkan musik seperti berjuta-juta manusia di luar sana ,saya mempunyai kesamaan dengan mereka seperti sama-sama menyukai nasi goreng atau dengan mereka yang suka mendengarkan The Beatles.

Identitas yang melekat pada diri saya dibentuk melalui pengalaman yang saya dapatkan,ketika membicarakan identitas mau tidak mau kita harus melihat ke masa lalu,ketika proses pembentukan identitas kita berlangsung,kumpulan dari berbagai macam identitas akan membentuk suatu kebudayaaan ,mengaenai latar belakang kebudayaan yang saya miliki,tentu saya akan mengatakan bahwa kebudayaan inilah yang terbaik.saya mengatakan bahwa tindakan atau perilaku yang saya lakukan harus sesuai dengan kebudayaan dari tempat saya berasal ,identitas kolektif akan membentuk suatu kebudayaan ,sedangkan identitas individual bisa membentuk karakter individu manusia itu sendiri yang membuat saya berbeda dengan manusia yang lain.

Ada yang mengatakan bahwa identitas dianalogikan seperti sebentang mobius yang melilit,di satu sisi identitas dapat digunakan sebagai penyatu suatu kelompok yang mempunyai tujuan,visi,dan misi yang sama ,namun di satu sisi yang lain secara brutal identitas bergerak sebagai penghacur suatu kelompok lain apabila ada pihak-pihak yang dinilai mengancam ekstitensi kelompok tersebut.Saya sebagai warga Negara muslim di Indonesia akan merasa sangat terancam apabila ada suatu kelompok lain yang berusaha menghilangkan keberadaan kelompok saya,sehingga konflik tidak dapat dihindarkan,sehingga kadang saya berfikir seandainya manusia bisa dilahirkan tanpa identitas yang mengikat.Manusia tanpa identitas tidak memandang perbedaan agama ,negara ,suku,dan etnis sebagai jurang pemisah.Dunia tanpa perbatasan dan identitas memungkinkan manusia untuk berpadu dalam suatu komunitas dunia yang satu, bahu membahu menyelesaikan persoalan satu kasus demi satu kasus, tidak saling menyalip demi kepentingan bangsa, suku mau pun kepercayaan masing-masing,sehingga kita dapat menciptakan suatu dunia yang damai.

Identitas,latar belakang kebudayaan dan tempat saya berasal merupakan sesuatu yang melekat pada diri saya sendiri sehingga dapat dikatakan kebudayaan yang saya miliki merupakan fondasi dalam komunikasi yang saya lakukan,karena persamaan budaya saya merasa lebih akrab berkomunikasi kepada indvidu lain yang memiliki latar belakang budaya dan tempat berasal,dan saya akan menjelaskan kepada diri saya sendiri sebagai manusia yang memiliki identitas berbeda dengan jutaan manusia di bumi ini ,saya harus bisa menerima segala perbedaan tersebut sehingga mobius yang tadinya begitu terlilit dapat perlahan-lahan dapat diluruskan walaupun perbedaan itu tetap ada.

Kamis, 08 Oktober 2009

dimensi keterasingan

agama adalah canduu.........
iya dulu terdengar seperti suara anjing bagi saya..
namun suara anjing tersebut membanggunkan saya...
benar bahwa kadang ,agama bisa menutupi sebuah kebenaran yang ada,disaat kita hancur ditipu,diberdayakan oleh sebuah sistem kelas..kita menganggap bahwa itu hanyalah cobaan dari tuhan,kita dipaksa untuk pasrah,dan berusaha menerima takdirNya..disitulah agama menjadi candu bagi kita,,,kita harusnya berusaha bukan hanya diam dan menerima kebenara tersebut yang belum tentu benar,,
agama itu suci bukan candu